Beranda > berita > Polri Sengaja Tak Sidik Boediono Sesuai Dokumen, Susno ke Pansus Angket Century

Polri Sengaja Tak Sidik Boediono Sesuai Dokumen, Susno ke Pansus Angket Century

JAKARTA – Susno Duadji terus memicu kontroversi. Kali ini, mantan Kabareskrim Mabes Polri itu menyerahkan dokumen tentang penyidikan kasus dana talangan (bailout) Bank Century Rp 6,7 triliun kepada Pansus Angket Bank Century DPR.

Dokumen tersebut berisi kesengajaan polisi tidak menyidik mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono karena yang bersangkutan menjabat wakil presiden (Wapres).

Dokumen itu diungkap anggota pansus Maruarar Sirait menjelang berakhirnya rapat pansus pada Kamis malam hingga Jumat pukul 01.00 kemarin (22/1). ”Dokumen ini sangat penting sebagai pijakan pansus untuk melangkah,” ujar Maruarar dalam rapat pansus yang menghadirkan empat saksi ahli dari kalangan ekonom tersebut.

Sebelum membeberkan dokumen itu, dia meminta kepastian izin dari pimpinan rapat yang diketuai Mahfudz Siddiq apakah dokumen tersebut boleh dibuka. Setelah diizinkan, Maruarar membacakan kutipan dokumen yang diserahkan Susno kepada pansus pada Rabu (20/1).

”Bareskrim Polri memang tidak memprioritaskan penyidikan kasus bailout Rp 6,7 triliun karena salah seorang anggota KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan) menjadi wakil presiden, sehingga akan terjadi kehebohan jika langsung disidik.

Padahal, sebenarnya tidak terlalu sulit membuktikan adanya korupsi dalam bailout Rp 6,7 triliun,” kata Maruarar.

Dokumen yang dimaksud Maruarar itu adalah dokumen yang dibuat Susno Duadji pada 27 November 2009 atau tiga hari menjelang dirinya dilengserkan dari kursi Kabareskrim.

Di bagian atas laporan terdapat tulisan: Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia Badan Reserse Kriminal. Ada pun laporan itu diberi judul: Laporan Penanganan Kasus Tindak Pidana Bank Century dan Upaya Penelusuran Aset.

Berikut adalah versi lengkap bagian akhir dokumen tersebut: Sebagai catatan, Bareskrim memang tidak memprioritaskan penyidikan kasus penyertaan dana Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Rp 6,7 triliun karena alasan sebagai berikut:

”Ada di antara anggota KSSK saat itu yang sedang mengikuti pemilu wakil presiden, kemudian menang, sehingga menunggu persiapan pelantikan yang tentunya kalau langsung disidik akan terjadi kehebohan, walaupun sebenarnya untuk membuktikan adanya korupsi dalam kasus penyertaan modal dari LPS senilai Rp 6,7 triliun ke Bank Century tidak terlalu sulit.”

Bukan hanya itu, di bagian penutup, Susno menyiratkan adanya fakta-fakta lain terkait kasus aliran dana Bank Century yang masih disimpan Bareskrim Mabes Polri karena dirasa belum saatnya diungkap ke publik.

Berikut isi lengkap penutup laporan tersebut: Demikian catatan detik-detik terakhir Komjen Pol Drs Susno Duadji SH MH MSc menjabat Kabareskrim Polri dibuat sesuai dengan fakta-fakta yang ada, namun tentunya masih banyak ketidaksempurnaan dan kekurangan dalam catatan ini karena keterbatasan waktu dan ada hal-hal yang belum saatnya untuk diungkapkan kepada publik. Semoga catatan ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang memerlukan.

Menurut Maruarar, dokumen dari Susno tersebut makin menggambarkan adanya sesuatu yang salah dalam kasus Bank Century, termasuk pengucuran Rp 6,7 triliun dari LPS.

”Apalagi, sebelumnya Pak Susno menyatakan, pembuktian kasus korupsi itu lebih mudah daripada mengungkap kasus maling jemuran. Jadi, jika ada keinginan kuat untuk menuntaskan kasus ini, berbagai pelanggaran akan terbongkar,” ungkap anggota Fraksi PDIP itu.

Saat dimintai komentar atas dokumen Susno tersebut, Faisal Basri yang malam itu datang sebagai saksi ahli enggan berkomentar. Menurut dia, keterangan Susno belum bisa menjadi acuan bagi penelusuran kasus Bank Century. ”Terus terang, saya meragukan kredibilitas Pak Susno. Jadi, saya tidak mau menanggapi,” ujarnya.

Sementara itu, anggota pansus dari Fraksi PKS, Andi Rahmat, menyatakan bahwa kasus Bank Century layak mengundang pertanyaan. Sebab, dalam kasus lain, yakni Bank Indover yang merupakan anak usaha BI di Belanda, pemerintah dan BI mengambil sikap yang bertolak belakang.

Menurut dia, saat Bank Indover terbelit krisis akhir 2008, pemerintah dan BI sudah berkonsultasi dengan Komisi XI DPR yang membidangi keuangan dan perbankan. Saat itu, kata Andi, berbagai data disampaikan pemerintah dan BI mengenai potensi sistemik serta risiko yang bakal dihadapi Indonesia jika Bank Indover ditutup.

Potensi sistemik dan risiko yang disampaikan itu sama persis dengan potensi sistemik dan risiko yang disampaikan jika Bank Century ditutup. Tapi, perlakuan akhirnya berbeda. Indover ditutup dan terbukti tidak terjadi apa-apa di Indonesia. Sementara itu, Bank Century akhirnya diselamatkan melalui pengucuran dana talangan.

”Alasan-alasannya sama, tapi perlakuannya beda. Indover ditutup, sedangkan Bank Century diselamatkan. Ada apa ini?” ungkapnya.

Mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli yang malam itu juga hadir sebagai saksi ahli menyatakan, pihak yang paling bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan penyelamatan Bank Century adalah Ketua KSSK Sri Mulyani Indrawati dan gubernur BI saat itu, Boediono.

Saat ditanya apakah pengambil kebijakan bisa dipidana, Rizal menuturkan dirinya sudah berkonsultasi dengan pakar hukum senior Adnan Buyung Nasution. ”Dia mengatakan, kebijakan bisa diadili, apalagi kalau niat kebijakan itu untuk merugikan negara,” tegasnya.

Polri Belum Terima Laporan

Terpisah, Mabes Polri belum bersedia menanggapi dokumen yang diserahkan ke Pansus Angket Bank Century tentang kesengajaan tidak disidiknya mantan Gubernur BI Boediono. ”Kami belum menerima laporan tentang Pak Susno di pansus,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Pol Edward Aritonang saat dikonfirmasi tadi malam.

Jenderal bintang dua itu lantas meminta waktu untuk mengonfirmasikan terlebih dahulu tentang apa yang disampaikan Susno Duadji di pansus. “Karena pada saat itu tidak ada yang mendampingi dari kami,” jelas Edward. Dia siap menyampaikan isi dokumen tersebut jika sudah mendapatkan informasi cukup tentang keterangan Susno dalam rapat pansus.

Sementara itu, Juru Bicara dan Staf Khusus Wakil Presiden Bidang Media Massa Yopie Hidayat mengungkapkan, Wapres Boediono belum mengetahui keberadaan dokumen yang berisi laporan dari Susno. Yopie mempertanyakan status dokumen yang dibuat pada hari-hari terakhir sebelum pencopotan Susno tersebut. ”Memang hak Pak Susno membuat laporan itu. Tapi, tidak jelas status suratnya, apakah itu hasil penyelidikan, penyidikan, atau laporan kepada atasan,” kata Yopie.

Dia merasa heran terhadap kesimpulan itu. Sebab, penyelidikan dan penyidikan atas pengambilan kebijakan bailout Bank Century tersebut belum pernah dilakukan. ”Belum pernah disidik kok sudah ada laporannya,” ujar mantan wartawan itu.

Buron Disidang In Absensia

Sementara itu, Kejagung memutuskan kasus korupsi Bank Century disidang secara in absensia. Itu berarti sidang tanpa dihadiri dua terdakwanya yang saat ini masih berstatus tersangka, yakni Hesham Al Warraq (wakil komisaris utama) dan Rafat Ali Rizvi (pemegang saham mayoritas atau pengendali).

Hingga berkas perkara dinyatakan lengkap (P-21), Hesham dan Rafat belum pernah diperiksa. Dua mantan pemegang saham Bank Century itu telah kabur ke luar negeri. Meski demikian, Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (JAM Pidsus) Marwan Effendy mengakui, dua tersangka tersebut pernah mengirimkan surat permohonan ke kejaksaan.

“Dia (tersangka, Red) memang kirim surat. Dia mengatakan minta diperiksa di London,” ungkap Marwan di gedung Kejagung kemarin (22/1). Tim penyidik tidak menanggapi permintaan dua buron tersebut. “Itu memang akal-akalan. Memangnya kita mau diperintah-perintah dia,” imbuh mantan kepala Kejati Jatim tersebut.

Dalam suratnya, Hesham dan Rafat mengaku dalam posisi ditangkal untuk masuk ke Indonesia. Namun, hal itu dibantah Marwan. “Yang ada itu pencegahan ke luar, tangkal nggak ada. Kapan saja bisa masuk. Kita welcome terima kalau mau datang,” urai dosen Pascasarjana Unissula Semarang itu. (owi/fal/sof/agm)

Kategori:berita
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: