Beranda > berita > Antasari Azhar Divonis 18 Tahun, Ajukan Banding

Antasari Azhar Divonis 18 Tahun, Ajukan Banding

[ Jum’at, 12 Februari 2010 ]

JAKARTA – Antasari Azhar harus bersiap mendekam di balik jeruji tahanan dalam waktu cukup lama. Itu setelah mantan ketua KPK tersebut divonis 18 tahun penjara dalam kasus pembunuhan Dirut PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen. Vonis tersebut dibacakan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan kemarin (11/2).

Putusan tersebut lebih ringan daripada tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) yang mengajukan hukuman maksimal, yakni hukuman mati. Antasari tampak tenang saat ketua majelis hakim Herri Swantoro mengetuk palu seusai membacakan putusan. Namun, dia langsung bersikap tegas.

“Kami sangat menghargai objektivitas hakim. Namun, beri kami kesempatan mewujudkan keadilan. Kami akan mengajukan banding,” kata Antasari setelah berkonsultasi dengan tim penasihat hukumnya. Sikap Antasari itu langsung disambut tepuk tangan pengunjung sidang.

Setelah sidang ditutup, Antasari yang mengenakan batik kuning lengan panjang langsung berdiri dan berbalik ke arah pengunjung sidang. Dia lantas mencari istri dan kedua putrinya yang ada di deretan pengunjung. Sementara suasana ruang sidang Prof H Oemar Seno Adji makin riuh karena puluhan jurnalis berusaha mendekati Antasari.

Akibatnya, dua putri Antasari, Andita Dianoctora Antasari Putri dan Ajeng Oktarifka Antasari Putri, sampai harus melompati kursi untuk bisa sampai ke ayahnya. Saat bertemu, ketiganya lantas berpelukan. Antasari, yang matanya tampak berkaca-kaca, lantas menciumi pipi kedua putrinya itu.

Dalam amar putusannya, majelis hakim menyatakan bahwa Antasari terbukti secara sah bersalah turut serta melakukan penganjuran pembunuhan berencana. Itu sesuai dengan dakwaan jaksa yang menjeratnya dengan pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo pasal 55 ayat (1) ke-2 KUHP jo pasal 340 KUHP.

Unsur-unsur dalam pasal yang didakwakan, menurut hakim, telah terpenuhi. Hakim menilai ada hubungan antara Antasari, Sigid Haryo Wibisono, dan Wiliardi Wizar dalam melakukan perbuatan itu. Yakni, pertemuan di rumah Sigid di Jalan Pati Unus, Jaksel, dan Antasari yang bercerita tentang teror yang dialaminya.

Kemudian ada penyerahan amplop cokelat berisi foto Nasrudin, mobil, dan rumahnya, serta penyerahan uang Rp 500 juta. “Sehingga terdapat rangkaian perbuatan dan kerja sama antara terdakwa, Sigid Haryo Wibisono, dan Wiliardi Wizar,” urai hakim Prasetya Ibnu Asmara.

Antasari juga disebut terbukti dalam melakukan penganjuran. Itu ditunjukkan oleh Wiliardi yang mencari orang untuk menghentikan teror setelah bertemu Antasari dan Sigid. “Terdakwa memberikan sarana dengan memberikan keterangan-keterangan tentang teror,” kata hakim.

Putusan yang lebih ringan daripada tuntutan jaksa juga diberikan majelis hakim dalam sidang yang digelar terpisah terhadap Sigid Haryo Wibisono, Wiliardi Wizar, Jerry Hermawan Lo. Masing-masing divonis 15, 12, dan 5 tahun penjara

Menurut hakim Charis Mardiyanto yang memimpin sidang Sigid, terdakwa ikut dalam perencanaan pembunuhan itu meski keterlibatannya secara tidak langsung. ”Unsur direncanakan menghilangkan nyawa orang terpenuhi. Namun, terdakwa tidak secara langsung terlibat. Dia hanya turut serta,” kata Charis.

Meski memiliki pertimbangan hukum hampir sama dengan putusan dalam sidang Antasari, majelis hakim dalam sidang Sigid tidak bulat dalam menyampaikan putusan. Albertina Ho, anggota majelis hakim, menyatakan disenting opinion (berbeda pendapat). Dia justru mengajukan hukuman lebih berat bagi Sigid.

Albertina beralasan, Sigid dinilai mengetahui maksud Antasari yang mengatakan agar dirinya mengamankan kasus itu. “Berdasar transkrip pembicaraan, terdakwa memahami secara tersirat bahwa ada perintah untuk membunuh,” kata Albertina.

Dalam sidang Wiliardi, majelis hakim yang dipimpin hakim Artha Theresia juga menyatakan bahwa terdakwa ikut dalam perencanaan pembunuhan. Mantan Kapolres Jaksel itu juga mencari eksekutor yang disebut akan menjalankan tugas negara. Karena itu, dia dipertemukan oleh Jerry Hermawan Lo dengan Eduardus Noe Ndopo Mbete alias Edo.

Penasihat hukum para terdakwa kompak keberatan dengan putusan majelis hakim. Mereka langsung mengajukan banding. “Pertimbangan hakim sangat dangkal. Kita (penasihat hukum) menilai ada rekayasa, tapi hakim tidak menjelaskan itu,” kata M. Assegaf, salah satu kuasa hukum Antasari, seusai sidang.

Dia mencontohkan peristiwa di kamar 803 Hotel Gran Mahakam antara Antasari dan Rani Juliani yang direkam. Demikian juga Sigid yang merekam pertemuan dengan Antasari. “Seorang hakim yang profesional seharusnya memberikan alasan mengapa tidak menjelaskan itu. Tidak cukup hanya dengan menyatakan unsur-unsur pasal telah terbukti,” kritik pengacara senior itu.

Maqdir Ismail, penasihat hukum Antasari lainnya, enggan berspekulasi dengan dugaan adanya intervensi terhadap majelis hakim dalam memberikan putusan. “Yang jelas, putusan ini menunjukkan hakim sangat ragu-ragu,” katanya. Dia mencontohkan kesaksian Wiliardi Wizar tentang adanya tekanan yang tidak dipertimbangkan hakim.

Sementara itu, Sholeh Amin, penasihat hukum Sigid, mengatakan, tidak ada satu pun saksi yang mengungkapkan fakta adanya pembicaraan perencanaan pembunuhan yang dilakukan Sigid, Antasari, dan Wiliardi. “Artinya, antara pertimbangan hukum dan diktum putusan tidak berkorelasi,” tegasnya.

Meski menyatakan banding, Sigid sepertinya lega karena lolos dari hukuman mati. Berdasar pengamatan Jawa Pos, begitu sidang selesai, Sigid mendatangi tim pengacara. Salah seorang pengacara berbisik kepadanya. Keduanya lantas tertawa berbarengan. Tanpa banyak berkomentar, Sigid yang mengenakan batik cokelat itu langsung keluar ruang sidang. Dia menuju mobil yang membawanya ke tahanan Polda Metro Jaya.

Santrawan T. Paparang, kuasa hukum Wiliardi, menyatakan hal serupa. Menurut dia, sejumlah fakta hukum tidak dipertimbangkan majelis hakim saat mengambil putusan. “Banyak fakta yang tidak dipakai. Jelas, kami akan banding,” tegasnya. Dia menyebut, keterangan ahli balistik dan ahli pidana tidak digunakan hakim.

Di bagian lain, Jaksa Agung Hendarman Supandji memastikan bahwa pihaknya akan melakukan banding atas putusan majelis hakim PN Jaksel terhadap Antasari cs. “Kalau di bawah tuntutan jaksa, itu tolok ukurnya pasti kita banding,” kata Hendarman di Kantor Presiden, Jakarta, kemarin.

Mantan jaksa agung muda pidana khusus (JAM Pidsus) itu mengatakan, jika putusan dan tuntutan terpaut jauh, biasanya jaksa melakukan banding. Meski demikian, jaksa tetap menggunakan waktu tujuh hari untuk menyatakan pendapat.

Apakah vonis yang berbeda jauh dengan tuntutan mati itu disebabkan bukti-bukti yang diajukan jaksa lemah? “Bukan masalah buktinya lemah. Ternyata, majelis hakim memutuskan, ada perbuatan dan bersalah. Itu yang penting. Kalau bebas, itu berarti kan tidak terbukti. Yang penting bahwa perbuatan itu ada dan dinyatakan bersalah,” kata Hendarman.

Di tempat yang sama, Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri mengatakan akan menggelar sidang kode etik tanpa menunggu proses banding. Hal itu untuk membahas nasib Wiliardi di korps baju cokelat itu.

“Iya, kita… tidak usah (menunggu banding). Setelah ini nanti dinyatakan selesai persidangan dan upaya hukum bersangkutan, tentu kode etik profesi akan diberlakukan bagi yang bersangkutan,” kata Kapolri.

Apakah akan mengarah ke pemecatan dari Kesatuan? “Iya, nanti mengarah ke sana,” tambahnya.

Meski sudah divonis 12 tahun, Kombespol Wiliardi Wizar tak langsung diberhentikan dari anggota Korps Bhayangkara. Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Mabes Polri memang akan membentuk komisi kode etik untuk menentukan nasib Wiliardi. “Disidang dulu nanti,” kata Kadiv Propam Mabes Polri Irjen Pol Oegroseno.

“Pemberhentian tidak dengan hormat itu harus melalui komisi. Tidak bisa saya yang mengatakan. Kalau pidananya saja sudah, itu akan lebih kuat, apalagi disiplinnya,” imbuhnya.

Berdasarkan aturan disiplin kepolisian, seorang anggota polisi yang dihukum minimal tiga bulan penjara sangat mungkin dikenai sanksi pemberhentian tidak dengan hormat. “Kita tunggu prosesnya,” kata jenderal dua bintang itu.

Kategori:berita
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: