Beranda > cerpen > Shanghai, 1943-Belinyu, 2000

Shanghai, 1943-Belinyu, 2000

Shanghai, Maret 1943

DARI suara radio yang sayup-sayup sampai lantaran menipisnya tenaga baterai, kau tahu kalau pasukan nasionalis kian terdesak. Kehidupan rakyat makin tak menentu, setiap hari selalu saja jatuh korban yang sulit dihitung di luar medan perang. Yang mati tertembak, sakit, atau kelaparan. Pengungsi bertebaran di mana-mana. Tak di desa, tak di kota. Shanghai memang tinggal menunggu kejatuhannya, pikirmu. Seperempat Cina telah dikuasai Jepang, mau apa lagi? Para konsul Barat sudah lama meninggalkan gedung-gedung kedutaan.

Mendongak, langit tampak mendung seperti berkabung. Bendera Republik Cina melambai sayu di atap sebuah gedung sekolah bertembok kusam. Kau menghirup kopimu, terasa pahit karena gula yang sedikit. Berita radio kini dengan serak meneriakkan sebuah propaganda agar rakyat bersatu, yang terdengar di telingamu lebih mirip celoteh tukang obat di pasar. Suara sang penyiar kemudian terdengar begitu bimbang ketika melaporkan pertempuran terakhir di Ghuangzou. Pasukan komunis masih bertahan di kantong-kantongnya, di desa dan hutan-hutan, kata penyiar itu seperti orang demam. Kau menggerutu tak jelas, bernada gusar. Seharusnya mereka simpan dulu pertikaian, pikirmu dengan kemarahan yang meruap ke ubun-ubun. Apalagi yang ditunggu? Sekadar gengsi atau dendam naïf tak berkesudahan? Ah, sampai kapan?

Chiang Kai Sek telah menandatangani surat kesepakatan dengan Amerika, Belanda, Inggris, dan Rusia untuk bahu-membahu melawan Jepang. Tapi kau merasa tak banyak yang bisa diharapkan dari surat kesepakatan itu. Harapan hanya ada pada persatuan. Jika saja Chiang Kai Sek mau berpikir sebagai seorang negarawan, melupakan segala perseteruan dan perbedaan ideologi dengan Mao!

Kau merasa kagum pada semangat Tentara Rute Kedelapan yang begitu ulet melancarkan serangan gerilya. Ah, anak-anak muda yang separonya bahkan tak pernah mengenal bangku sekolah itu, yang biasanya cuma tahu memegang cangkul! Entah bagaimana mereka memperoleh kemahiran berperang melawan pasukan Jepang yang terlatih dan bersenjata lengkap. Kalau saja semua pemuda di negeri ini memiliki semangat seperti mereka…

Kemudian kau teringat seorang pelajar sekolah menengah yang berteriak-teriak di atas podium di depan gedung sekolahnya dua minggu lalu, berorasi panjang dengan muka merah padam menyerukan agar kaum muda berhenti memikirkan keselamatan diri sendiri dan mulai memikirkan bangsa. Tetapi alangkah naïfnya ketika pemuda tanggung itu kemudian mengeluarkan sebilah belati dan hendak menikam perutnya sendiri sebagai tanda kekecewaan. Semangat mungkin tak cukup, tidak pernah cukup… Pikirmu menggeleng-geleng.

Kau menghirup kopi pahit untuk kesekian kali, ketika A Ming, keponakanmu, masuk ke toko dengan wajah muram.

”Paman, ada surat tagihan hutang dari Paman Hung…,” bisik A Ming ragu-ragu. Kau mendongak dengan kesal. Kopi hampir tersembur keluar dari mulutmu.

”Bilang sama dia, nunggu dua hari lagi! Kalau belum bisa kubayar juga, dia boleh sita semua barang yang tersisa di toko ini!” kau berteriak meradang. A Ming tersurut mundur, wajahnya betapa muram, ”Iya, iya Paman. Akan kusampaikan…”

Kau menghempaskan tangan dengan keras ke atas meja. Hingga cangkir porselin berisi kopimu yang tinggal seperempat bergoyang, berputar di atas piring kecil alasnya. Dengan kecut A Ming buru-buru keluar dari toko melalui pintu samping. Kau menghela nafas panjang dan memperhatikan sekelilingmu, memperhatikan barang-barang tersisa yang tak terjual. Sebagian telah kau pakai untuk melunasi hutang.

Di kejauhan, bendera Republik Rakyat Cina tampak semakin sayu, kini bahkan layu. Angin berhenti berhembus. Gerimis mulai jatuh satu-satu. Bunyinya seperti suara isakan, mengingatkanmu pada sebuah opera Cina yang sedih di gedung Teater Piere French Concession yang kau tonton menjelang Peh Cun.

***

Belinyu, Oktober 1952

SEREMPAK penonton di bioskop kecil itu berdiri. Mereka bertepuk tangan riuh ketika di kain layar muncul wajah pemimpin Mao. Lalu seperti dikomando, hampir semua mulut serentak terbuka, menyanyikan Mars Sukarelawan yang kini telah menjadi lagu kebangsaan Republik Rakyat Cina dengan lantang: ”Chilai… Chilai! Pu yen co nuli jen men…!”

Kau ikut berdiri, tetapi hanya tertegak diam di depan tempat dudukmu, bungkam membiarkan suara-suara nyanyian penuh gelora itu menghunjam kedua telingamu. Juga ketika lagu berganti, ”Tung fang fung, thai yang sen… Chung Kuo cut liau ke Moa Tze Tung…!” Seperti paduan suara anak sekolah saat peresmian Chung Hwa Hwee Koan atau parade militer di jalan-jalan Shanghai ketika Jepang menyerah, batinmu geli.

Semua orang seperti kelelahan ketika wajah sang pemimpin besar menghilang digantikan wajah riang sepasang suami istri dengan anak laki-laki mereka yang berkuncir layaknya anak dewa. Adegan makan malam yang bersahaja selepas panen raya yang girang gemilang. Orang-orang di sisi kiri-kananmu, juga di bangku deretan depan kini duduk membisu, dengan mata terpaku pada kain layar seolah tak ingin terusik dari kenikmatan menonton.

”Ratusan mil di seberang laut dari kampung halaman, mereka masih saja seperti orang bodoh,” keluhmu antara jengkel dan takjub di dalam hati.

Kau merasa sedikit kegerahan. Tetap saja kau tak bisa menghilangkan rasa geli melihat sang suami di kain layar bersendawa keras karena kekenyangan. Sebuah film propaganda yang manis, gerutumu ingin sekali meninggalkan tempat duduk, tak tahan gerah. Pikiranmu melayang-layang ke Festival Barong pada perayaan Cap Goh Me musim semi itu, sebelum perang pecah, saat terakhir kalinya kau turun laga bersama grup barongmu. Petasan dibunyikan di jalan-jalan, begitu meriah. Orang-orang berkumpul di pinggir jalan melambai-lambaikan bendera kecil dan angpao.

Seolah ruh para dewa benar-benar merasuk, barongmu meliuk-menerjang, melompat-berputar. Demikian lincah dan gesit. Orang-orang bertepuk riuh, bersuit-suit. Sekilas, di tengah atraksi, kau melihat istrimu tersenyum di antara kerumunan orang di pinggir jalan. Begitu cantik dalam balutan cheongsam birunya.

Untuk beberapa lama, pikiranmu melambung ke masa lalu. Ngungun. Sebuah medali perak, sebuah kebahagiaan dan kehormatan yang lewat. Kau tersadar ketika kembali terdengar tepuk tangan ramai memenuhi gedung bioskop kecil itu. Film berakhir penuh gumam. Lampu dinyalakan petugas proyektor. Kau bangkit dari tempat dudukmu dengan lesu dan mengantre di belakang barisan panjang penonton untuk keluar dari gedung bioskop.

”Mendingan nonton atraksi Cong Po Min jual obat gosok…,” seseorang terdengar berbisik di belakangmu. Kau tak bisa menoleh, karena desakan di punggungmu. Tiba-tiba kau dengar suara ribut-ribut di luar pintu bioskop. Ada suara perempuan menjerit.

”Ada apa? Ada apa?” pertanyaan-pertanyaan memperibut suasana. Kau terdorong-dorong ke depan. Terdengar makian dalam bahasa Melayu.

”Ada orang berkelahi!” seseorang berseru di dekat pintu keluar. Kau meringis ketika kakimu dipijak seseorang.

***

Belinyu, Desember 1965

MENDUNG bergelayut di langit sejak pagi, tapi hujan tak turun. Tak ada toko yang buka, padahal menjelang Tahun Baru Imlek. Semua orang Tionghoa memilih berdiam diri di rumah, di antaranya mungkin meringkuk di kolong ranjang. Hanya orang-orang Melayu yang berani berkeliaran di jalan, itu pun tak banyak. Tentara dan polisi terus berpatroli.

”Tidak ada apa-apa, Suk. Saya jamin toko-toko di sini aman!” kata Suminto, kapolsek bertubuh jangkung itu padanya dua hari lalu.

Ah, teman yang baik, pikirnya kecut. Suminto selalu datang ke toko setiap awal bulan untuk membeli beras, gula, dan kebutuhan lainnya. Tapi ia tak pernah meminta bayaran.

”Ah, bawa sajalah, Pak. Untuk teman…,” katanya sambil tersenyum. Suminto tertawa lebar dan mengucapkan terima kasih berulang-ulang. Ia kenal polisi itu ketika menjenguk Min Cung, kawan adik iparnya yang tertangkap menggelar judi kodok-kodok. Min Cung ketakutan setengah mati di dalam sel. Karena tak tega, akhirnya ia menemui kapolsek. Min Cung boleh pulang, kata Suminto setelah ia memasukkan angpao ke saku seragam kapolsek itu.

Kakinya sudah agak hangat, tidak lagi kesemutan setelah direndam air panas yang disediakan menantunya. Ia tahu, semua orang tegang. Berita orang ditangkap, hilang, atau mayat-mayat yang mengambang di sungai dan di laut masih terus terdengar. Chung Hwa Hwee Koan sudah diambil alih oleh pemerintah. Sekelompok tentara mendatangi gedung sekolah ketika pelajaran sedang berlangsung. Putri bungsunya, Ai Ling, berlari pulang sambil menangis. Guru-guru ditahan, kata Ai Ling dengan mata sembab.

Karena itu ia malas mendengar siaran RRI. Ia lebih senang mendengar siaran pacuan kuda dari radio Singapura, meski sesekali berita tentang kerusuhan di negeri ini tersiarkan juga dalam warta berita Singapo Kuo Ci Tien Thoi. Partai komunis sedang diberangus di Indonesia setelah gagal dalam kudeta, demikian laporan berita-berita itu.

Ia ingat teman-teman dan sanak-saudaranya yang ikut menyingkir ke Taiwan bersama pasukan Chiang Kai Sek, ketika dulu partai komunis berhasil merebut kekuasaan di daratan Cina. Ia memilih datang ke negeri ini, menyusul keluarga istrinya. Tidak mudah, mereka harus membayar mahal kepada petugas imigrasi. Perempuan malang itu baru berhenti menangis setelah mereka sampai ke Bangka. Adik bungsunya sendiri bergabung dengan tentara nasionalis. Tapi adik nomor duanya pengagum berat pemimpin Mao, memutuskan masuk Fakultas Pertanian di Beijing. Kini sudah menjadi dosen di Nanjing.

Ia tahu, barangkali ia memang tidak bisa menulikan telinga dari berita-berita itu. Adik iparnya, misalnya, tadi pagi dengan berbisik-bisik menceritakan padanya kalau sekelompok pemuda Melayu membakar kelenteng di Pangkalpinang.

”Ah, mereka punya masalah dengan komunis! Apa perkaranya dengan kelenteng?” tukasnya meradang.

”Mereka benci orang Tionghoa, Ko. Karena Perdana Menteri Zhou Enlai membantu Aidit…,” tukas adik iparnya. Ia juga mendengar, hubungan diplomatik pemerintah Indonesia dengan pemerintah RRC sudah diputus. Bahkan kedutaan besar RRC di Jakarta diobrak-abrik massa.

Ia menerawang. Cemas dan lelah. Ia ingat lagi festival-festival barongsai yang diikutinya di kampung halaman. Ingat medali-medali kemenangan kelompok barongnya yang kini tersimpan di lemari khusus. Kakinya kembali terasa kesemutan.

Belinyu, April 2000

AI LING mengusap matanya yang sembab. Ditancapkannya batang-batang dupa merah itu di hadapan nisan marmer ayahnya. Lelaki tua yang keras hati itu telah lama terbaring di bawah gundukan makam. Subuh belum lagi sempurna benar. Tapi langit seolah lebih terang. Ah, hari Cin Min yang bersih… Pemakaman yang dikelilingi perkebunan karet itu begitu hibuk oleh orang-orang yang datang bersembahyang. Setiap tahun, setiap hari ziarah Cin Min tiba, ia memang selalu menyempatkan diri untuk pulang. Meskipun kakak-kakaknya tidak.

Ai Ling tersedu di depan makam. Entah kenapa, tiba-tiba ia merasa begitu bersedih. Di kejauhan para pemusik tanjidor yang disewa khusus untuk menghibur para peziarah masih terus bermain. Musik menghentak-hentak dalam irama mars, lalu pelan-pelan berganti irama sedih yang mendayu-dayu mengibakan hati. Ditatapnya dinding nisan sang ayah. Bibirnya berdesis, terbata-bata mengeja huruf-huruf hanji berwarna emas di dinding nisan. Air matanya kembali bergulir. Dalam genggamannya, sebuah medali perak bergambar kepala barong dengan pita merah panjang terasa dingin. Medali perak kebanggaan sang ayah.

Ia terkenang pada sekelompok barongsai yang ikut tampil pada karnaval 17 Agustus… Gagah dan cukup piawai ketika beratraksi meskipun tampak sedikit grogi. Kini, di mana-mana klub-klub barong bermunculan lagi. Anak-anak muda, ternyata masih menaruh minat pada tradisi leluhur. Mungkin lantaran film-film kungfu, pikirnya lalu menyeringai kecil. Tapi syukurlah, masih banyak orang tua yang diam-diam memelihara keahlian bermain barong sehingga dapat menurunkan kepada mereka. Sejak Presiden Gus Dur menyatakan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur bagi yang merayakan, tak ada lagi pembatasan terhadap aktivitas kebudayaan yang berbau Tionghoa.

Terbayang lagi olehnya wajah sang ayah sebelum menghembuskan napas terakhir. Wajah pucat pasi yang terbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Sepasang mata orang tua itu menatapnya sayu berkaca-kaca, nyaris kehilangan sinar. Tangan keriput sang ayah terasa gemetaran ketika meraih lengannya, ”Ling, seandainya saja papa bisa menonton barongsai sebelum mati…”

Suara itu nyaris berbisik, tapi masih begitu jelas terngiang di telinganya. Ai Ling menangis terisak-isak di depan makam. Wewangian asap dupa terasa sesak di paru-parunya. Ia menggigit bibirnya keras-keras. Entahlah, dalam pandangannya yang mengabur oleh air mata, ia merasa seolah-olah melihat asap dupa gaharu yang meliuk-liuk liar di depan nisan itu menjelma jadi tarian barong. Seperti juga hari itu, ia tak pernah lupa, bagaimana asap hitam tebal yang membumbung dari ruko suaminya di bilangan Pasar Minggu bagai berarak perlahan menuju langit ketiga puluh tiga…***

*)Sunlie Thomas Alexander, Gaten, Yogyakarta, 2007-2010

: Mengenang Gus Dur

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: