Beranda > otomotif > Tentang Larangan Premium Untuk Motor

Tentang Larangan Premium Untuk Motor

Baguslah kalau ada larangan pemakaian premium untuk motor. Itu pasti ucapan orang yang ngga kere atau tak kenal orang kere. Karena ngga kere makanya selalu pakai mobil. Eh mobilnya sering kena srempet atau kena potong motor. Hahahahaha….

Tidak semua daerah ada transportasi umum seperti angkot atau taksi. Contohnya perumahan2 yang di pinggiran kota. Letak kompleksnya bisa berjarak 2-5 km dari jalan raya yang dilewati angkot. Untuk mencapai jalan raya yah pakai ojek. Contohnya saya kalau harus ngantor pakai angkot, maka ngojek dulu 2 km terus ganti angkot 3 kali. Satu kali perjalanan bisa habis 15 rb, bolak balik 30 rb. Sementara kalau naik motor hanya habis 1 liter bensin PP. Bayangkan kalau anak sekolah harus habis 10 – 15 rb perharinya hanya untuk transport. Apalagi anaknya yang sekolah bukan seorang tapi dua atau tiga. Jadi buat anda yang ngga kere dan bergembira karena mengira akan bikers akan berkurang, anda salah!. Tentu saja saya tidak bakal pindah ke angkot, mending tetap naik motor walau pakai pertamax. Pertamax? No problem, tinggal saya gesek head block diatas kertas amplas diatas kaca. Coba dulu tipisi 0,3 mm lalu setting karburator dan test drive, dan seterusnya. Kalau kompresi dan settingan pas , motor tambah bertenaga dan makin irit. Paling berkurang top speednya kalau apes.

Atau biker pun berpindah ke sepeda listrik yang mampu lari 30 km/jam dan masih bisa menyerempet/memotong mobil anda yang ngga kere karena mobil mulus anda pun tak akan bisa lari melebih 20 km jam dalam kota yang macet. Hahahahahahaha.

Yang saya prihatinkan adalah nasib tukang ojek. Tukang ojek di perumahan2 dan pinggiran kota yah bukan tukang ojek di kota besar yang suka main palak. Tukang ojek yang digunakan ibu2 untuk antar/jemput anak TK/SD dan untuk belanja ke pasar. Penghasilan mereka paling 25 rb – 35 rb sehari. Bayangkan motor ojek harus pakai pertamax, berapa jadi tarifnya? Naik 100 % ? Kemudian yang terjadi pelanggan ojek akan memilih berjalan kaki. Bagaimana dengan nasib tukang ojek? nasib keluarga tukang ojek? Wah buat yang ngga kere atau tak kenal orang kere pasti mengganggap saya sok miskin. Hahahahahaha.

Jadi kelihatannya memang benar pemerintah sekarang memang neolib. Baguslah kalau larangan ini benar-benar diterapkan, jadi jelas kalau pemerintah sekarang memang neolib. Saya pun tidak akan salah coblos atau salah kampanye untuk Pemilu 2014 mendatang. Jangan pilih partai/pemerintah yang neoliberal !

Kategori:otomotif Tag:
  1. 27 Mei 2010 pukul 8:33 pm

    pinter gening jang kekek

  2. 24 Juni 2010 pukul 9:45 am

    namanya juga orang kaya, banyak yang kaya setan suka makan urang rakyat, berharap dia mikirin orang miskin tapi sesudah terpilih malah mikirin perut sendiri… ck…ck..ck..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: